JavaScript is required to view this page. Harga Karet Tinggi Petani Gairah Lagi

Minggu, 14 November 2010

Harga Karet Tinggi Petani Gairah Lagi

RANTAU, Petani karet di Kabupaten Tapin kembali bergairah menyusul setelah anjloknya harga karet di pasaran beberapa waktu lalu. Kini harga karet berangsur-angsur naik, dan petani karet semangat lagi untuk menggarap lahan karet mereka.

Ir.Sufian Noor, Kepala Dinas Perhutanan dan Perkebunan Kabupaten Tapin membenarkan kondisi anjloknya harga karet beberapa waktu lalu di Tapin.

Sebagaimana di kutip dari MataBanua Jum’at (12/11) kemarin Ia menyatakan, “Kondisi turunnya harga karet beberapa waktu lalu itu paling lama sekitar 3 bulan, dimana petani karet di Tapin terkena imbasnya saat itu. Harga karet petani saat itu dihargai Rp.5.000 perkilo, dan nilai itu dianggap petani hanya pas, untung tidak rugi pun tidak. Sehingga petani lebih banyak menganggurkan karetnya waktu itu. Juga dengan harga pas-pasan tersebut justru stok karet petani waktu itu terbeli dan tidak mandek, “katanya.

Lanjut Sufian, “Dampaknya kalau karet petani sampai mandek, jelas perekonomian wilayah itu akan terganggu. Contohnya, putaran ekonomi di kota Rantau itu sangat dipengaruhi oleh kelompok tani dari kawasan atas. Seiring harga karet anjlok salah satu indikatornya seperti dealer sepeda motor macet, alias petani tak bisa bayar kredit, “katanya.

Hasil survei yang dilakukan pihaknya menyatakan bahwa petani karet di kawasan atas Kabupaten Tapin rata-rata sudah sejahtera dengan hasil perkebunan karet ini. Artinya, komoditi karet sudah sangat berpengaruh terhadap perekonomian wilayah dan pendapatan petani cukup lumayan.

Saat ini harga karet di Tapin sudah normal kembali dengan kisaran harga Rp.12.000. perkilo, dibandingkan sebelumnya Rp.5.000 perkilo. Harga Rp.12.000 perkilo tersebut tentunya telah didukung dengan kualitas bokar bersih yang rata-rata sudah diterapkan oleh petani karet untuk meningkatkan kualitas.

Tingkatkan Kualitas Karet dengan Menggunakan Deorap

Sosialisasi bokar bersih yang dilaksanakan Dinas Perhutanan dan Perkebunan Kabupaten Tapin nampaknya telah mengena di hati petani karet di Tapin. Kata Sufian, “Sampai-sampai kita kewalahan untuk memenuhi stok deorap bagi petani karet. Sebab untuk meningkatkan kualitas karet di Tapin, petani disarankan untuk menggunakan deorap dan meninggalkan penggunaan pembekuan karet yang digunakan sebelumnya, “katanya.

Rata-rata petani karet di Tapin seperti di kawasan Binuang kini di dalam mengelola mutu kualitas karet menggunakan deorap, atau asam semut sebagai bahan pembeku alternatif lain. Saking tingginya animo petani untuk beralih penggunaan pembekuan karet dengan Deorap, kita sempat kewalahan dan kehabisan stok deorap waktu itu.
Namun sekarang sudah tidak lagi, stok sudah tersedia. Karena Pemerintah Provinsi Kalsel telah meminta jatah deorap lebih besar lagi bagi Kalsel. Bahan pembeku deorap itu di kirim dari Balai Penelitian Sembawa, Palembang.

Kita waktu itu juga pernah melakukan kunjungan kerja ke Palembang, disana kita bertemu dengan pengusaha-pengusaha karet, dan rakyat serta wilayahnya benar-benar sejahtera dengan hasil komoditi karet. (Rull)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar