JavaScript is required to view this page. Warga Pipitak Jaya Mulai Manuggal Padi

Jumat, 09 Desember 2011

Warga Pipitak Jaya Mulai Manuggal Padi


RANTAU, – Menjelang musim tanam, warga Pipitak Jaya Kecamatan Piani menggelar manuggal (Red.sebuah tradisi adat dayak Piani setiap memasuki musim tanam) pada Senin (28/11) kemarin. Acara manuggal ini dihadiri oleh ratusan warga dayak Pipitak Jaya (Piani), Malinau, Padang Batung, Bidukun, Balaiwan, dan Harakit.

Apa yang disebut Manuggal adalah prosesi tradisi warga Tapin didataran atas seperti di desa Pipitak Jaya kecamatan Piani. Manuggal dengan menggunakan alat yang disebut kurung-kurung adalah semacam karya warga dayak setempat sebagai tanda dimulainya manuggal padi di lahan yang baru dibuka dipegunungan, setelah dilakukan pembakaran. Alat kurung-kurung ini yang terbuat dari bambu dan ulin dibawahnya. Alat ini dapat mengeluarkan irama suara sekaligus juga membuat lubang tanam.

Sugiannor, Kepala Desa Pipitak Jaya didampingi Satran B, warga masyarakat Pipitak Jaya, mengatakan, “Manuggal yang digelar ini merupakan tradisi adat warga dayak Pipitak Jaya setiap menjelang musim tanam, dimana warga dayak secara berkelompok berasal dari daerah Pipitak Jaya, Malinau, Harakit hingga warga dayak Loksado datang menghadiri atas undangan tokoh adat di kawasan setempat. Hal yang menarik dan menjadi ciri khas tradisi budaya dari manuggal ini adalah mengadu irama suara yang berasal dari kurung-kurung yang dihempaskan warga ke tanah hingga membuat lubang tanam benih. Hal itu sebagai tanda dimulainya manuggal padi diatas lahan yang baru dibuka, “katanya.

Dijelaskannya, “kurung – kurung terbuat dari batang bambu, ulin, dan rotan, dimana alas dasarnya untuk membuat lubang tanam selanjutnya dimasukan bibit padi. Adapun benih yang ditanam adalah benih duyung yang memiliki ciri khas rasa tersendiri (istimewa). Cara menanam petani disini adalah dengan cara bergontong royong dalam mengolah lahan mereka, mulai dari membuka lahan dengan terlebih dahulu menebang pohon dan membersihkan lahan, hingga membakar. Selanjutnya menanam bibit benih (manuggal) dan panen, “jelasnya.

Di lain sisi, Sugiannor kepala desa Pipitak Jaya, menambahkan, “Adapun hasil panen dari hasil manuggal ini, kita konsumsi dan dinilai cukup untuk makan selama tiga tahun. Kita pernah gagal tanam pada tahun 2009-2010 kemarin, karena cuacanya waktu itu hujan terus hingga tak bisa membuka lahan dan melakukan pembakaran, apalagi manuggal. Dan benih tahun-tahun sebelumnya itu masih cukup untuk konsumsi kita disini, “katanya.

Sementara Kepala Adat Pipitak Jaya, Rusdiansyah, mengatakan, “Manuggal yang dilaksanakan diawali dengan tanda mengetuk kurung-kurung ke tanah hingga menimbulkan suara oleh puluhan warga yang hadir diacara. Dimana bila ada suara yang baik itu ditingkatkan lagi, dan bila suara belum baik itu diperbaiki, “katanya.

“Adapun manuggal kali ini dilaksanakan di Pipitak Jaya, sebagai ajang silahturahmi antara warga dayak Pipitak Jaya dengan warga dayak di Hulu Sungai Selatan. Bergantian dilaksanakan tempatnya setiap tahunnya, kalau tahun lalu di Harakit, dan tahun ini dilaksanakan di Pipitak Jaya, “katanya. (Rull)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar