JavaScript is required to view this page. BKBN Tapin Tekan Angka Kawin Muda

Kamis, 31 Maret 2011

BKBN Tapin Tekan Angka Kawin Muda

RANTAU, Di Kabupaten Tapin angka usia kawin muda antara usia 15 tahun sampai 20 tahun, dan tak dipungkiri didaerah ini masih ada yang kawin muda terutama di kawasan kecamatan seperti Candi Laras Utara, Salam Babaris, dan Binuang. Sejumlah faktor penyebabnya mereka kawin muda diantaranya ketidak mengertian mereka akan dampak dari kawin muda. Dimana pada usia seperti itu dinilai secara mental belum siap, secara ekonomi mereka masih bergantung dengan orang tua, sehingga tak jarang lantaran kawin muda rumah tangga mereka kerap dihinggapi masalah.

Ir.Raumayanti, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Tapin mengatakan, “Salah satu upaya kita untuk menekan angka kawin muda yakni dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas terutama remaja dibawah umur terkait dampak akibat dari kawin muda, “katanya.

Selain itu, “keberhasilan program-program kita di KB Kabupaten Tapin tak hanya mengandalkan peran BKKB. Keberhasilan program KB juga tergantung dengan program dinas atau lembaga lain. Misalnya seperti TP-PKK Kabupaten Tapin dalam program posyandu balita dan posyandu lansia, dan juga Dinas Kesehatan setempat, “katanya.

Kita juga memiliki program informasi konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK-KRR), dimana dengan terus menerus penyuluh kita melaksanakannya dengan merambah ke desa-desa yang ada di daerah ini. Penyuluhan kepada para remaja terkait alat reproduksi, dimana para remaja dikenalkan tentang bahaya dampak dari alat reproduksi itu sendiri, dengan di berikannya penyuluhan seperti ini terus menerus diharapkan dapat menekan angka kawin muda yang diantara para pelakunya adalah remaja dibawah umur 20 tahun. Ideal usia kawin itu bagi wanita berumur 21 tahun, dan pria 25 tahun. Dimana diusia itulah yang dianjurkan pemerintah.

Ditambahkan Hidayat, Kabid Pendataan KB, Di Kecamatan Candi Laras Utara adalah daerah yang banyak yang melakukan perkawinan diusia dini, hal ini dinilai karena kurangnya pemahaman tentang alat reproduksi dan seputar pengetahuan KB. “Di Kecamatan CLU sudah dari dulu, dimana setelah mereka lulus sekolah langsung menikah. Selain di CLU juga terjadi di Binuang, dan Salam Babaris bahkan di kecamatan lainnya, dimana ke tiga kecamatan inilah yang paling banyak, “katanya. (Rull)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar